Dari milis Novelis
Antara Amanat Seni dan Fakta Sejarah
(Dibalik Heboh Novel The Da Vinci Code)
Oleh: Taufik Munir
Sejak peluncurannya tiga tahun yang lalu, novel The Da Vinci Code karya novelis Amerika Dann Brown menghentak banyak kalangan. Mungkin karena itu pula novel kontroversial itu menjadi best seller sepanjang tahun di Amerika. Dalam waktu singkat terjual 40 juta kopi di seluruh dunia. Yang menakjubkan lagi novel tersebut sudah diadaptasi ke 50 bahasa di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri novel tersebut laku keras bak kacang goreng. Hanya saja, sejak pertamakali buku itu hendak difilmkan bahkan menjelang pemutaran perdananya beberapa kalangan menilai novel tersebut sarat penghinaan terhadap kekudusan Yesus Kristus dan ajaran-ajaran Kristiani. Karena itu mereka menuntut agar film tersebut tidak ditayangkan di Indonesia.
Kenyataan di atas mengundang berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan novel sejarah sebagai sebuah seni: seberapa jauh novel sejarah harus pararel dengan "fakta-fakta sejarah" dan faktor-faktor lain yang mengakibatkan fakta-fakta tadi menelusup ke dalam fiksi. Begitupula sebaliknya. Toh begitu banyak novel-novel sejarah yang ditulis oleh novelis-novelis kondang tanah air. "Para Priyayi" karya almarhum Umar Kayam hanyalah satu contoh. Novel-novel sejenis juga pernah ditulis mendiang Pramoedya Ananta Toer (PulauBuru, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa). Atau mungkin Remy Silado dengan Cau-bau-kan. Sangat disayangkan jika seorang YB Mangunwijaya tidak disebut sebagai penulis novel dengan sederet karyanya (Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa, Burung-burung Manyar, trilogi Roro Mendut).
Meski nama-nama di atas tidak semasyhur penulis papan atas seperti Luthfi Manfaluthfi, Naguib Kaylani, George Zaidan, Ali Ahmad Bakatir, Abdurrahman Munif, Gamal Ghitani, Ridwa Ashur, Salwa Bakr, Najwa Sya'ban, dll. namun tumpukan karya mereka cukup memperkuat eksistensi novel sejarah di Indonesia. Sementara Dan Brown sendiri dalam "The Da Vinci Code" belum cukup dianggap sekelas dengan penulis kelas dunia seperti Alexander Dumas, atau Charles Dickens. Yang menjadi pertanyaan, apa sesungguhnya yang ingin dikemukakan Brown dalam novelnya yang kontroversial itu? Untuk membongkar kedok Brown, baiknya menyisir terlebih dahulu sekilas isi perut "The Da Vinci Code".
The Da Vinci Code berusaha berkisah seputar kapten polisi Bezu Fache yang mengawasi gerak-gerik tokoh simbol Jacques Sauniere, seorang kurator museum Louvre yang dibunuh tanpa motif yang jelas. Kemudian muncul tokoh Robert Langdon, profesor sejarah ahli simbologi Harvard yang dicurigai polisi karena korban sempat menyebut namanya menjelang tewas. Cerita terus berjalan, hingga tiba saatnya Robert dan Sophie Neveu (Polwan Perancis yang juga cucu korban) menemukan sebuah kotak yang disimpan Sauniere di salah satu Bank Swiss yang diyakini menyimpan dokumen-dokumen penting kelompok rahasia kristen yang dikenal dengan nama Sion, yakni kelompok biarawan yang memiliki dokumen-dokumen penting tersebut di tahun 1975. Pemerintah Perancis kemudian mengungkap bahwa diantara anggota-anggotanya terdiri dari tokoh-tokoh penting, termasuk Sir Isaac Newton, Botdcelli, Victor Hugo dan Leonardo Da Vinci. Plot novel tersebut dibuat seolah menginvestigasi seberapa besar pengaruh kelompok rahasia tersebut dalam mengaburkan dogma-dogma Kristiani. Mereka mengklaim bahwa Maria Magdalena melahirkan seorang anak karena perkawinannya dengan Yesus. Di bukunya, Brown menyinggung keberpihakannya pada bagian-bagian tertentu yang terinspirasi dari sebuah novel berjudul: "Sanctify Blood". Beberapa kalangan berpendapat bahwa novel sejarah hanyalah satu diantara jenis bacaan sejarah, atau dengan kata lain, ia hanyalah bacaan kreatif sejarah yang equivalen dengan bahan bacaan sejarah itu sendiri.
Kita tahu bahwa buku-buku sejarah melulu menyorot perjalanan sejarah dan berorientasi pada sejarah tokoh, kaum elit, atau upper class... tapi tidak menyuguhkan fakta kehidupan, detail waktu hari-hari mereka, apa animo mereka, dan bagaimana mereka berfikir. Hal-hal kecil seperti ini luput dari perhatian. Tugas inilah yang kemudian diemban oleh novel sejarah.
Mengambil contoh dari gerakan perang salib, kita bisa temukan sebuah buku cerita legendaris "Seribu Satu Malam" (Alfu Lailah wa Lailah), di sana lebih dari 200 malam yang menyinggung peristiwa-peristiwa perang salib, baik secara langsung ataupun terselubung.
Itu artinya, sejarah kadang terkontaminasi oleh pengaruh emosi umat (baca: penulis). Penghargaan berlebihan kepada nabi atau fanatisme pada satu tokoh tertentu, misalnya, tak jarang diungkap dalam kepenulisan sejarah yang cenderung mengarah pada pengkultusan individu. Pada beberapa kasus penulis tidak menolak fenomena tersebut, sebab tak mungkin hanya karena respek yang melampaui batas kewajaran atau fanatisme berlebihan pada satu tokoh dianggap tidak koheren dengan penghormatan yang segaris lurus dengan fakta sejarah. Namun secara umum akan selalu dinyatakan bahwa tak mungkin karena alasan konsistensi terhadap amanat seni lantas menginjak-injak kebenaran sejarah.
Novel-novel Arab bertema sejarah seperti Azra'u Jakarta (Gadis-gadis Jakarta) dan Layali Turkistan (Malam-Malam Turkistan) karya Naguib Kailani tetap konsisten dengan prinsip-prinsip di atas. Selanjutnya, pembacaan novel sejarah tidak terlepas dari pencarian terhadap konsistensi para hamba seni yang memerankan fakta sejarah yang mereka mainkan. Dan biasanya muncul pula tokoh-tokoh sekunder yang mewakili tokoh-tokoh utama yang ada dalam buku, akan tetapi tokoh utama 'buatan' yang identik dengan tokoh sejarah sesungguhnya tentu pengambilannya harus tetap pada koridor fakta sejarah.
Menurut Abdul Kadir, kritikus sastra asal Mesir, elemen-elemen dasar di atas tidak termuat pada novel The Da Vinci Code, karena pada dasarnya The Da Vinci Code bukan novel sejarah karena ia tidak memuat sejarah melainkan hanya membincangkan papan lukis yang terdapat di museum Louvre, Perancis. Jelas, ini cuma fiksi. Kendatipun menurut penulisnya novel itu dihujani segerombol data, namun sedikit demi sedikit data-data sejarah itu diracik dengan legenda-legenda, mitologi-mitologi, sekaligus religius: tentang perkawinan Yesus Kristus dan Maria Magdalena. Ini merupakan zona teologi yang pondasi utamanya sebuah debat panjang di lingkungan kristiani tentang sudut ketuhanan dan kemanusiaan Yesus. Dan bukan zona sejarah! Dann Brown sendiri, sang penulis novel tersebut, di tengah wawancara khusus di situs pribadinya di internet ketika ditanya apakah novelnya itu sengaja menyudutkan umat Kristiani? Brown merespon: "tidak. Buku ini tidak menyerang siapapun. Ini hanyalah novel. Saya menulis cerita ini sebagai salah satu usaha untuk menyingkap latar belakang pemahaman publik terhadap Yesus yang menyulut perhatian saya sebagai penganut Kristen. Mayoritas pemeluk Kristen yang taat memahami betul apa yang saya maksud."
Jika sang penulisnya sendiri menyatakan dengan "ikhlas" seperti di atas, Penulis sangat menyesalkan beberapa kalangan yang keburu nafsu menganggap novel tersebut sangat berbahaya dan mencederai dogma Kristen. Saat ramai-ramainya penolakan film The Da Vinci Code di Korea Selatan, PII (Persekutuan Injili Indonesia) sebagai asosiasi dari 87 organisasi dan 101 yayasan Kristen dalam siaran persnya menyatakan: "Film The Da Vinci Code berisikan penodaan terhadap agama, dalam hal ini yaitu dalam bentuk penghinaan terhadap pokok-pokok iman dari agama Kristen" (Gatra, 17/5). Padahal yang terpenting untuk diingat: kita tidak perlu menerima mentah-mentah apa yang tertulis dalam novel tersebut, apalagi meyakininya sebagai suatu sejarah.
http://religiusta.multiply.com/reviews/item/18